#6….. 1 Jam untuk Berubah

Kehadiran Social Media dan Gadget, memang merupakan dua sisi mata uang. Satu sisi, kita akan mendapat banyak “sampah”, berupa informasi yang seringkali tidak kita butuhan. Tetapi disisi lain, pada saat yang bersamaan, atau bisa jadi pada suatu waktu, tiba-tiba kita mendapatkan jawaban atas apa yang kita inginkan. Kata kuncinya, kita harus pandai-pandai memanage informasi yang datang bertubi-tubi bak tsunami itu. Sehingga, kita bisa mendapatkan “sesuatu” yang memang kita inginkan.

Tadi pagi saya mendapat broadcast dari BBM group saya, yang kemudian saya sebar ke group lain, sebuah cerita yang sederhana, tetapi sangat menyentuh. Nah di kesempatan ini, saya akan membagi kepada Anda, lewat blog ini. Selamanat menikmati :

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya,

“apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?” Ayahnya memandang kepada anak kecil itu & berkata,

“tidak bisa, nak.”

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya & berkata lagi,

“apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya. Continue reading

Menggagas Taman Bacaan Anak Sholeh

Berawal dari sebuah kegelisahan kami sebagai orang tua, ketika anak-anak melaksanakan libur sekolah, dimana hari-hari mereka lebih banyak dihabiskan di depan Televisi, yang seringkali didefinisikan dengan sarkasme, sebagai kotak setan itu. Bukan berarti saya anti TV, akan tetapi lebih karena content-nya, yang seringkali tidak sesuai dengan pertumbuhan anak-anak. Tidak dipungkiri, bahwa ada juga acara-acara TV itu yang selaras dengan perkembangan jiwa anak, dan di desain untuk anak-anak, akan tetapi karena alasan komersiil, seringkali iklan yang seharusnya untuk orang dewasa, nyelonong di acara anak-anak. Tidak juga saya memproteksi anak-anak, untuk tidak menonton/memboikot TV, akan tetapi secara kasat mata, survey kecil-kecilan saya terhadap anak-anak, jika mereka  asyik masyuk di depan TV, maka seringkali perilakunya akan berubah. Tidak jarang pula menjadi males, kalo tidak bisa dibilang mematikan kreatifitas. Mereka lebih pandai meniru apa yang mereka lihat, dari pada membuat sesuatu dari hasil karyanya. Secara sadar atau tidak, anak-anak kita akan menjadi follower tidak bisa menjadi leader, menjadi user bukan producer, dan seterusnya. Untuk itu sempat selama 3 tahun kami tidak memiliki TV dirumah. Kemudian kami sediakan TV, tetapi hanya untuk memutar VCD/DVD anak-anak. Dan sebagai gantinya kami langganan koneksi internet. Sehingga anak-anak tidak ketinggalan informasi/wawasan, tentu saja saya filter site-site/content apa saja yang bisa dikunjungi. Ternyata jebol juga pertahanannya, sehingga channel-channel TV itu akhirnya dengan mudah di pentengin anak-anak.

Sebenarnya, saya dan istri sudah lama membiasakan anak-anak untuk membaca. Bahkan sejak anak pertama kami belum genap 1 tahun (sekitar 11 tahun yang lalu). Untuk memenuhi keinginan anak-anak tersebut, kami senantiasa membelikan tambahan koleksi buku setiap bulan. Bahkan anak-anak saya telah hampir habis melalap buku-buku itu, tidak jarang mereka membaca satu judul buku berulang beberapa kali. Tidak kurang dari 300 (tigaratus) judul buku anak-anak tersedia di perpustakaan pribadi di rumah. Memang belum banyak, akan tetapi ternyata tidak sedikit menyita ruangan di rumah kami yang mungil. Istri saya menata dengan rapih buku-buku itu. Meskipun belum di klasifikasikan sesuai dengan Klasifikasi Desimal Dewey (Dewey Decimal Classification (DDC), akan tetapi sudah di kelompokkan agar anak-anak mudah mengambil dan menaruh kembali.

Obrolan kami tadi pagi di dapur, nampakya mencapai kesepakatan bahwa kami harus menyediakan “bacaan” yang bergizi, tidak sekedar kepada anak-anak biologis kami, tetapi terhadap anak-anak sekitar kami juga. “Bacaan” dengan makna yang seluas-luasnya, yaitu memberikan anak-anak sebuah media media belajar, yang disitu anak-anak bisa membaca, mempelajari, bahkan lebih jauh mengexlore gagasannya. Saya berkeinginan adanya Community Based Learning¸ sehingga lingkungan kehidupan di sekitar kami adalah tempat belajar yang sesungguhnya. Dengan demikian kami berharap anak-anak ini nantinya akan tumbuh sebagai pribadi yang unggul, tangguh, kreatif, inifatif, mandiri dan memiliki leadership, sehingga mampu memimpin dunia. Dan pekerjaan besar itu akan kami mulai dari garasi Rumah Kami. Insya Allah.

Mengenang Kasih Ibu di Hari Ibu

“Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagi sang surya menyinari dunia”.  Tiba-tiba saya teringat lagu ini di hari Ibu. Lagu yang senantiasa dinyanyikan almarhumah Ibu kepada kami, ketika kami masih kecil. Jika saya atau kakak-kakak sedang bandel/nakal, ibu senantiasa melantunkan lagu itu, dengan suaranya yang lembut, merdu dan penuh penghayatan. Bagaikan tersihir,  pada saat yang bersamaan kami semua akan menuruti ibu.

Susah bagi saya untuk melukiskan sosok Ibu kami tersebut, apalagi dalam ruang blog yang sempit ini. Ingin rasanya suatu saat nanti, saya membuat biografi Ibu. Diruang ini, saya hanya ingin memberikan gambaran beberapa episode, dari deretan panjang riwayat hidupnya. Beliau adalah, seorang ibu yang sungguh amat luar biasa, multidimensi. Ibu yang mampu menjadi tauladan, pembimbing, pendidik dan sekaligus menjadi pelindung,  tidak hanya kepada kami anak-anaknya, tetapi juga kepada para tetangga, murid, sanak saudara, dan juga kerabatnya. Ibu, yang tidak hanya cantik secara fisik, akan tetapi “inner beauty”-nya sungguh patut untuk di teladani. Beliau senantiasa mengajari kepada kami bagaimana harus menghormati orang dan juga menjalin dan menjaga tali silatturahim. Yang senantiasa mengajak kami untuk selalu optimis menatap masa depan. Mengajari kami untuk tidak silau dengan gemerlap dunia, serta menjaga ibadah kami.

Memang secara dien pemahaman beliau tidak mendalam. Bahkan ketika memberikan petuah dan nasihat kepada kamipun, tidak harus dengan menyitir ayat-ayat di Kitab Suci. Tetapi sungguh, setelah kami dewasa, dan kemudian mengerti sedikit tentang dienulhaq ini, nyaris tidak ada satupun, apa yang beliau sampaikan itu, bertentangan dengan Syar’i. Semuanya inline. Bahkan seolah-olah tinggal mencarikan pembenar di Kitab Suci dan Hadits Nabi, maka seluruh apa yang Ibu lakukan dan sampaikan itu, bisa menjadi serangkaian tulisan atau bahkan buku tentang Islamic Parenting Guide.

Beliau berprofesi sebagai Guru SD, dan terakhir jabatannya adalah Kepala Sekolah Dasar. Sebuah profesi, yang kemudian mentahbiskan beliau menjadi bagian dari “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,”.  Guru yang benar-benar bisa di gugu dan di tiru. The Real Teacher, itulah penilaian subyektif saya.  Beliau tidak hanya melakukan transfer of knowledge, tetapi juga melakukan transfer  of value. Yang mendidik dan sekaligus mengajari murid-muridnya sehingga menjadi  jiwa-jiwa yang berkarakter. Selain sebagai guru, aktifitas sosialnya di luar rumahpun, sungguh sangat padat. Selain sebagai anggota pengurus Dharmawanita, menjadi pengurus PKK, Pengurus Koperasi, Pengajian dan sederet aktifitas sosial lainnya.  Akan tetapi, deretan aktifitas itu, sama sekali tidak mengurangi kodrat, kapasitas dan peran beliau sebagai Ibu Rumah Tangga.

Beliau senantiasa bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Kemudian melakukan aktifitas ibadah, dan pada saat bersamaan, beliau juga mempersiapkan masakan untuk sarapan kami dipagi hari. Beliau menyapu halaman rumah kami yang cukup luas, dan sebelum jam 6.00 pagi, seluruh pekerjaan itu termasuk hidangan untuk keluarga sudah siap. Selain itu beliau juga sudah mempersiapkan pakaian kerja Bapak dan juga kami anak-anaknya. Saya sangat heran, bagaimana beliau mampu memanage, waktu sedemikian baik. Tidak pernah rasanya beliau belajar tentang Project Management, akan tetapi seluruh rangkaian aktifitasnya, seolah mengikuti standar PMBOK. Itu semua beliau lakukan dengan tingkat akurasi yang tinggi.  Sebab dari hari Senin-Sabtu beliau harus mengajar, di Sekolah yang berada di lain kecamatan yang ditempuh dalam waktu 30 menit dengan mengendarai Sepeda Motor. Artinya beliau datang lebih pagi, dari jadwal sekolah yang dimulai pukul 07.00.

Mendekati usia 50 tahun Ibu mulai menderita berbagai macam penyakit. Yang dimulai dari Cancer Payudara dan komplikasi dengan Lever. Penyakitnya semakin parah ketika Cansernya di operasi. Setelah itu, selama hampir 7 tahun,  Ibu keluar masuk Rumah Sakit dan juga pengobatan Alternatif.  Akhirnya di usia ke-55 tahun,  di pagi hari bulan Juli tahun 1996, Ibu menghembuskan nafas-nya yang terakhir dengan senyuman  tersungging indah di bibirnya. Maafkan kami anakmu yang belum bisa membalas seluruh jasamu itu. Allahummaghfirlaha, warhamha, wa’afihi, wa’fu’anha. Semoga Allah mengampuni seluruh dosa dan kesalahan Ibu, menerima seluruh amalnya, dan mempertemukan kembali dengan kami di Surganya . Amiin…

Motivasi : Ngajarin Anak Puasa

Memasuki bulan Ramadhan, ada tambahan job baru, yang harus dengan telaten harus aku kerjakan. Bukan job-job besar untuk bikin proposal dalam rangka menjebolkan sebuah proyek. Akan tetapi lebih mulia dari pada itu, yaitu mengantarkan anak-anak-ku tersayang sebagai amanah Allah untuk lebih banyak mengenal Syaria’ahnya. Ya…..Rukun Islam ke-4, yaitu puasa.

Sampai hari ke-4 ini di luar dugaan justru Nafi’ anak ke -2, yang masih kelas 1 SD umur 6 tahun itu, sama sekali belom bolong puasanya. Masih keliatan segar bugar. Sedangkan Rohmah anak ke-1, yang kelas 3 SD (8 tahun), kemarin harus buka jam 2 siang karena sakit (deman) dan hari ke-4 pun sama ummi-nya dan juga saya, kami larang untuk berpuasa,karena masih deman, meskipun protes pengin puasa. Dan yang mebikin kejutan justru anak k3-3 Rif’at (IAK) baru umur 5 tahun, kelas TKB, hari pertama puasa penuh sampai maghrib, sedang hari ke2 dan ketiga sampai dengan Ashar. Sedangkan yang kecil 2 tahun tentu belon ngerti puasa dong. Subhanallah…

Berawal dari Motivasi …..

Mungkin alasan anak-anak tersebut untuk tetep kuat dan pengin terus berpuasa adalah iming-iming yang saya janjikan. Iming-imingnya memang masih berupa materi. Jika kuat puasa sampai dhuhur mendapat hadiah Rp. 1.000,-, jika sampai ashar Rp. 3.000,- dan jika sampai maghrib Rp. 5.000,-. Selain iming-iming yang sifatnya materi tersebut, tentu saja saya dan “umminya” anak-anak terus-menerus memberikan motivasi yang sifatnya spririt, tentang kisah-kisah mulia dan sukses orang-orang yang mendirikan puasa, terutama puasa ramadhan. Disamping itu keutamaan dan kemuliaan bulan ramadhan senantiasa kami bacakan dan kami ulang-ulang, tentu saja sesuai dengan cara yang mudah merekapahami

Meski masih dini… tetapi saya yakin sebenarnya motivasi, akan menjadi “energi” yang luar biasa untuk menyelesaikan sesuatu. Termasuk bagaimana anak-anak tersebut mampu menyelesaikan puasa ramadhannya.

Selamat Anakku… mudah-mudahan menjadi anak Sholeh……..