#10…..Membangun R & D, Kenapa Tidak?

Di perusahaan kami, meskipun saat ini masih sangat kecil, kami sedang mengupayakan berjalannya sebuah devisi Research and Developmen (R&D). Meskipun selama kegiatan R&D sudah berjalan, akan tetapi masih belum memiliki dan mengikuti standard dan prosedur yang baik. Berjalan apa adanya. Belum ada team yang khusus di tempatkan disitu, sedemikian pula halnya, perusahaan juga belum cukup mengalokasikan budget untuk R&D. Dan dengan tanpa adanya alokasi dana dan resources yang cukup untuk R&D tersebut, kami sudah menghasilkan 2 (dua) produk, yang sudah terjual dipasar. Tetapi saya masih belum puas, jika dia tidak dikelola melalui proses R&D yang benar.

Sebagai perusahaan yang berbasis teknologi, kehadiran divisi R&D adalah merupakan sebuah keharusan. Sebab, R&D merupakan nyawa, yang akan menjaga hidup matinya sebuah perusahaan teknologi. Apalagi jika ia, ingin ungul dalam persaingan bisnis. Perusahaan teknologi yang memenangkan pertarungan, adalah mereka yang berani mengalokasikan dananya untuk kepentingan R&D ini. Biasanya mereka mengalokasikan budget untuk kepentingan R&D ini minimal di angka 3,5% dari total revenue. Karena mereka -para perusahaan berbasis teknologi itu- sadar betul, bahwa tanpa adanya R&D maka dia akan tenggelam dan kalah dalam persaingan.

Untuk kepentingan tersebut, kami melakukan pencarian data dari berbabagi source, dengan jenis industri yang berbeda, hanya untuk kepentingan, bagaimana mereka sanat aware terhadap R&D tersubut. Kemudian di rangkum oleh tim kami sebagaimana dalam gambar berikut :

Dari amatan saya, dengan biaya riset yang sedemikian besar itu, pantas saja mereka-mereka itulah, yang selama ini menguasai pasar di dunia. 

Sedangkan dari data lain, khusus untuk ICT (Information and Communication Technology) diperoleh data sebagaimana di bawah ini :

 

Meskipun di negeri ini, sebagian produk-produk software yang ada di list tersebut, banyak yang di bajak, tetapi, mari kita bayangkan dengan spend budget, sebesar itu, yang konon dalam range 5-16% dari revenue, maka bisa kita hitung berapa pendapatan tahunan mereka. Memang inilah kapitalis, yang dalam bahasa H. Roma Irama, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Atau dengan bahasa lain, yang besar semakin besar, yang kecil nggak sempat tumbuh sudah keburu mati.

Sayangnya budaya R&D ini nampaknya belum dimiliki oleh perusahan-perusahaan nasional Indonesia (termasuk perusahaan saya). Jika tohada, biasanya dikasih nama dengan akronim LITBANG, yang banyak diplesetkan dengan suLIT berkemBANG. Kerjanya tidak jelas, budgetnya minim sekali. Yang diteliti apa, lain pula hasil nya dari tujuan penelitian awal (nanti kita bahas dilain kesempatan). Selanjutnya, menjadi wajar pula, jika selama ini produk-produk bangsa ini, belum mampu bersaing di kancah internasional.

Dari data-data tersebut di atas, dan juga kenyataan bahwa di negeri ini masih belum cukup sadar bahwa, R&D adalah sebuah kebutuhan, maka kami telah memaksakan diri dengan seluruh keterbatasan yang dimiliki, menghadirkan divisi R&D yang paling tidak memenuhi kebutuhan internal perusahaan. Saya sadar, secara pribadi tidak cukup memiliki kapasitas untuk membangun dan mengembangkannya. Tetapi, sebagai technopreneur, bagi saya tidak ada yang tidak bisa atau yang tidak mungkin dilakukan. Asalkan kita ada kemauan, disitu akan ada jalan. Dan saat ini, secara konsep alhamdulillah sekarang sudah ada, meski masih berupa draft. Akan tetapi sudah menggambarkan ruh dan DNA dari R&D yang akan di bangun. Roadmap dan Milestone-nya juga sudah ada. Tinggal di finetune, di seleksi orang-orang yang minat, Insya Allah bisa jalan. Ke depan harapan saya bisa berkolaborasi dengan lembaga penelitian milik pemerintah dan perguruan tingi, yang selanjutnya mampu mengasilkan produk dan solusi yang memang di butuhkan oleh negeri ini. Jika tidak sekarang kapan lagi ? 

#8…..Bekerjasamalah…..

Beberapa hari yang lalu, saya ketemu dengan kawan, yang sekaligus partner bisnis, dengan beberapa kali sempat kerjasama mengerjakan pekerjaan dalam berbagai jenis proyek. Sebenarnya, lebih tepatnya saya dikenalkan oleh kawan saya sehingga kenal dengan kawan ini.Ketika kami diperkenalkan, waktu itu perusahaan saya masih kecil (meskipun sampai sekarang juga masih kecil, tapi dari volume pekerjaan, jumlah orangnya, dan juga jumlah hutangnya meningkat drastis:)). Sedangkan |perusahaan kawan saya itu, ketika itu, sekitar 7 tahun yang lalu juga masih dalam tahapan start up. Kami menjalin kerjasama dengan tsiqoh (kepercayaan) yang tinggi. Dengan sama-sama masih miskin segalanya, baik modal,pengalaman dll, tetapi justru saat itu kami mulai menjalin kerjasama itu. Meskipun secara pribadi kawan saya ini, telah memiliki jam terbang yang cukup lumayan di sebuah perusahaan besar, sebelum kemudian memutuskan untuk menmbangun bisnis sendiri.

Salah satu alasan ketika itu kami menggandeng kawan tadi adalah, karena saat itu kami mendapatkan sebuah proyek, sedangkan resource kami sangat terbatas. Dan saat itu, core competence perusahaan kami, justru bukan di pekerjaan yang kami peroleh itu. Ketika itu core kami di Infrastructure and Network Solution, sementara kami mendapatkan project di Software Development dan System Integration. Sehingga untuk mengerjakan pekerjaan yang kami dapat, kami harus memilih paling tidak dua cara ini, pertama melakukan rekruitmen atau dan kedua bekerjasama dengan perusahaan lain. Continue reading

#7….. 5F Untuk Mengembangkan Bisnis

Seringkali saya  menjumpai sesorang yang sudah cukup lama mengembangkan usahanya. Bahkan berkali-kali berganti jenis usaha, akan tetapi tidak pernah cocok. Semuanya kandas di tengah jalan. Ada yang bangkrut, bahkan meninggalkan setumpuk hutang. Padahal dia telah membaca puluhan buku tentang entrepreneurship dan kisah sukses pengusaha besar, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan beberapa trik dan tipnya sudah dipraktekkan. Disamping itu tidak jarang dia melihat dan mendengarkan radio bisnis, juga mengikuti seminar dan pelatihan yang diisi oleh motivator terbaik di negeri ini. Tetapi mengapa, lagi-lagi usahanya selalu tidak membuahkan hasil?

Berdasarkan pengalaman dan bacaan saya, ada cara sederhana yang mudah di ingat, dan kemudian dilakukan untuk mengembangkan bisnis kita. Mungkin ini juga sering disarankan oleh motivator atau di dapat dari buku-buku entrepreneur, dengan cara penyajian dan argumentasi yang berbeda-beda. Tetapi bagi saya, inilah beberapa cara yang saya pakai dalam menjalankan bisnis saya, sehingga masih survive sampai saat ini, yang tahun ini memasuki tahun ke-12. Meskipun dengan dinamika yang bermacam-macam, 5F ini saya pakai kerangka dalam memanage perusahaan.

  1. Fight Saya yakin sejatinya setiap pengusaha itu seorang pejuang, atau bahasa agamanya mujahid. Mereka senantiasa bertarung di garis terdepan. Sebagai seorang petarung tentu saja banyak halangan dan rintangan yang dihadapi. Demikian juga tentang perjalanan hidupnya, kadang di atas dan tidak jarang langsung jatuh ke jurang, sebagaimana yang digambarkan dalam kurva dead valley. Oleh karenanya seorang entrepreneur harus tetap menyalakan semangangat perjuangan ini. Dia harus fight sebagai seorang fighter. Dan seorang fighter tentu memiliki fighting spirit yang tinggi untuk memenangkan pertarungan, apapapun kendala dan rintangannya. Dia, tidak boleh menyerah dalam kondisi apapun juga. Saya pernah mengalami suasana dalam kondisi yang jatuh, bener-benar jatuh, dengan tumpukkan hutang yang menggunung. Continue reading

#5…..Kapan Mulai Berbisnis ?

Saya sering mendapat pertanyaan yang seperti itu, atau kurang lebih maksudnya seperti itu. Pada awalnya saya menjawab sangat normatif sekali. Yaitu tergantung dari kesiapan kita. Sebab untuk memulai bisnis itu butuh persiapan. Ada proses yang dilalui. Dimulai dari persiapan dengan membikin bisnis plan dan seterusnya sampai kemudian membuat hitung-hitungan aspek keuangan dari ROI, BEP dan seterusnya. Dulu saya berpendapat seperti itu, sehingga, sebelum mulai bisnis, akan terasa betapa berat memulai sebuah bisnis itu.

Seiring dengan pengalaman dan juga bacaan yang saya baca, saya menemukan banyak hal, yang sesungguhnya tidak begitu-begitu amat. Bukan berarti tanpa ada persiapan dan proses seperti di atas. Akan tetapi kita bisa menyederhanakan atau mungkin menyingkat proses-proses di atas. Letaknya teryata dari kebiasaan atau kesukaan yang Anda lakukan sejak kecil. Mungkin kita lihat itu sesuatu yang sederhana, atau bahkan tidak ada pengaruhnya. Continue reading

#3…..Sepuluh Faktor Utama Kurang Optimalnya Implementasi Strategi

Dalam beberapa survei dan penelitian, teryata ditemukan banyak perusahaan di Indonesia sangat lihai ketika membuat proposal, rencana kerja, business plan, termasuk mendesain strategi. Apalagi jika melibatkan Konsultan. Biasanya strategi yang di buat dalam kemasan tulisan yang indah-indah. Dan di bumbui dengan berbagai argumen, referensi, data-data statistik dan sederet dokumen pendukung lainnya. Intinya, mengandung pesan jika strategi yang tertuang itu dilaksanakan, maka akan mengangkat performance organisasi, yang pada gilirannya akan meningkatkan profit maupun benefit yang luar biasa bagi perusahaan. Kemudian efeknya bisa di tebak, bahwa pemegang saham, manajemen dan seluruh karyawan, kemudian tersihir oleh strategi yang disusun itu.

Akan tetapi menurut Tim Riset GML Consulting, dalam bukunya Even Elephans Can Dance, yang telah melakukan studi terhadap 175 esponden yang berasal dari ekseutif di berbagai organisasi di Indonesia pada tahun 2010 -2011, menemukan bahwa hanya 37,5 % responden yang merasakan setidaknya 70% program kerja dan rencana strategi berjalan dengan baik. Artinya ada 62,5% merasakan bahwa implementasi strategi belum berjalan secara optimal. Ketika ditanya apa alasan penyebab kurang terimplementasinya rencana strategi, berikut ada 10 alasan yang di maksud ;

  1. 40,8% : Tidak adanya suatu unit untuk memfasilitasi pembuatan strategi dan pemantauan implementasi
  2. 34,0% : Tidak terdapat proses yang baku dalam memastikan bahwa strategi, target dan program kerja unit kerja (devisi; departemen) diselaraskan dengan unit kerja (divisi; departemen) yang lain dan selaras dengan strategi di level perusahaan
  3. 34,0% : Tidak ada arahan yang jelas dan mengisnpirasi untuk strategi ke depan dari Executive Management
  4. 33,3% : Tidak terdapat sistem reward (dan non-reward) yang jelas kepada karyawan yang berkinerja tinggi dibanding dengan mereka yang berkinerja rendah
  5. 29,9% : Tidak ada pembelajaran serta langkah-langka koreksi terhadap strategi (dari review meeting) yang telah dilaksanakan
  6. 29,2% : Visi, misi dan strategi tidak di komunikasikan dengan terencana dan jelas sampai ke level lini depan organisasi.
  7. 28,6% : Kualitas sumber daya manusia tidak memadai
  8. 23,8% : Penyusunan budget organisasi tidak dikaitkan dengan perencanaan strategis organisasi
  9. 23,8% : Executive Management tidak mendorong inisiatif-inisiatif strategis yang mendorong perubahan organisasi dalam memenangkan persaingan
  10. 23,1% : Visi, misi, strategi, target, inisiatif strategi tidak terdefinisikan dengan jelas di level perusahaan maupun unit bisnis/divisi.

Dari kacamata saya, jika kesepuluh pertanyaan itu di tanyakan pada seluruh stake holder perusahaan saya, nampaknya jawabanya akan mengikuti struktur dan urutan prosentasenya, tidak mengalami perubahan. Dan bisa jadi ini merupakan wajah dari perusahaan di Indonesia. Sehingga sepuluh hal di atas, seharusnya bisa dijadikan semacam “kaca” untuk bercermin dalam rangka melakukan self evaluation. Selanjutnya dari situ akan kelihatan mana yang sudah sejalan, mana yang belum. Yang sudah dipertahankan dan kemudian di tingkatkan. Sedangkan yang belum sejalan dilakukan perbaikan, baik dari visi, misi, strategi, target dan implementasi strategi perusahaan di semua lini. Jika tidak, maka akan mengikuti jejak organisasi yang di riset itu. Lalu, bagaimana dengan perusahaan Anda? #3